Kamis, 12 Juli 2018

BAB 9 Analisis Laporan Keuangan dan Pengukuran Kinerja

Kinerja keuangan merupakan salah satu faktor yang menunjukkan efisiensi dan
efektifitas suatu organisasi dalam rangka mencapai tujuannya. Efisiensi diartikan sebagai
rasio (perbandingan) antara masukan dan keluaran
yaitu dengan masukan tertentu
memperoleh keluaraan yang optimal. Sedangkan efektifitas apabila manajemen memiliki
kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau suatu alat yang tepat untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat
digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuang
an atau aktivitas suatu
perusahaan dengan pihak
-
pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan
tersebut. Laporan keuangan merupakan hasil tindakan pembuatan ringkasan data keuangan
perusahaan. Laporan keuangan ini disusun dan ditafsirkan u
ntuk kepentingan manajemen dan
pihak lain yang menaruh perhatian atau mempunyai kepentingan dengan data keuangan
perusahaan. Laporan keuangan merupakan hasil dari proses akuntansi yang meliputi neraca,
perhitungan rugi
-
laba dan laba yang ditahan, laporan p
erubahan posisi keuangan serta catatan
atas laporan keuangan. Laporan keuangan itu disusun dengan maksud untuk menyediakan
informasi keuangan mengenai suatu perusahaan kepada pihak
-
pihak yang berkepentingan
sebagai bahan pertimbangan di
dalam pengambilan k
eputusan ekonomi, (Harnanto: 2004)
Tujuan Laporan Keuangan
Menurut standar akuntansi keuangan (2009) tujuan laporan keuangan dalam kerangka
dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan, antara lain:

Menyediakan informasi yang menyangkut posisi
keuangan, kinerja, serta perubahan posisi
keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam
pengambilan keputusan ekonomi.
Memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai. Namun demikian, laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian dimasa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi keuangan.
Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen, atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang telah dipercayakan pada dirinya. Pemakai yang ingin menilai apa yang telah dilakukan atau pertanggungjawaban manajemen berbuat demikian agar mereka dapat membuat keputusan.

Fungsi Laporan Keuangan
Laporan keuangan itu manajemen memperoleh banyak informasi yang bermanfaat
untuk:

Merumuskan, melaksanakan dan mengadakan penilaian terhadap kebijaksanaan, kebijaksanaan yang dianggap perlu.
Mengorganisasi dan mengkoordinasikan kegiatan
kegiatan atau aktivitas dalam perusahaan.
Merencanakan dan mengendalikan kegiatan/aktivitas sehari hari dalam perusahaan.
 Mempelajari aspek, tahap - tahap kegiatan tertentu dalam perusahaan.
Menilai keadaan atau posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan.

Bentuk - Bentuk Laporan Keuangan
Untuk menganalisis terhadap suatu laporan keuangan, seorang analis harus
mengetahui dan mempelajari terlebih dahulu mengenai pengertian tentang bentuk-bentuk laporan keuangan. Secara umum ada tiga bentuk laporan keuangan ya
ng pokok yang
dihasilkan oleh suatu perusahaan yaitu meliputi neraca, laporan rugi laba dan laporan aliran kas, (Hanafi dan Halim:2009).
Sifat Laporan Keuangan
Laporan keuangan dipersiapkan atau dibuat dengan maksud untuk memberikan
gambaran atau laporan kemajuan (progress report) secara periodik yang dilakukan pihak manajemen yang bersangkutan. Jadi laporan keuangan adalah bersifat historis serta menyeluruh, Sebagai
progress report laporan keuangan terdiri dari data hasil dari suatu k
ombinasi antara:
1.Kejadian-kejadian atau Fakta yang telah dicatat.
2.Konsep dasar dan konvensi-konvensi yang dipakai didalam akuntansi.
3.Pendapat-pendapat/pertimbangan-pertimbangan pribadi (manajemen).
Pengguna Laporan Keuangan
Menurut Sofyan Syafri Harahap (
2006) para pemakai laporan keuangan beserta kegunaannya dapat dilihat dari penjelasan berikut:
1.Pemegang Saham
2.Investor
3.Analis Pasar Modal
4.Manajer
5.Karyawan dan Serikat Pekerja
6.Instansi Pajak
7.Pemberi Dana (Kreditur)
8.Supplier
9.Pemerintah atau Lembaga Pengatur
    Resmi
10.Langganan atau Lembaga Konsumen
11.Lembaga Swadaya Masyarakat
12.Peneliti/Akademisi/Lembaga Peringkat
Pentingnya Analisis Laporan Keuangan
Arti pentingnya analisis laporan keuangan dapat dijelaskan dengan melihat
karakteristik dari laporan keuangan itu se
ndiri dan mengkaitkannya dengan kebutuhan atau fokus perhatian para pemakai laporan keuangan dalam proses pengambilan keputusan.
Laporan keuangan akan menjadi lebih bermanfaat untuk pengambilan keputusan ekonomi, apabila dengan informasi laporan keuangan tersebut dapat diprediksi apa yang akan terjadi di masa mendatang. Dengan mengolah lebih lanjut laporan keuangan melalui proses pembandingan, evaluasi dan analisis trend, akan diperoleh prediksi tentang apa yang mungkin akan terjadi di masa mendatang.di sinilah arti pentingnya suatu analisis terhadap laporan
keuangan.
4 Pengertian Analisis Laporan Keuangan
Leopold A. Bernstein (Harahap: 2006), memberi definisi analisis laporan keuangan
sebagai berikut:
“Financial statement analysis is the judgmental process
that aims to evaluate
the current and past financial positions and result of operation of an enterprise,
with primary objective of determining the best possible estimates and prediction
about future conditions and performance
.”
Dari definisi di atas jelas
bahwa analisis laporan keuangan merupakan suatu proses
yang penuh pertimbangan dalam rangka membantu mengevaluasi posisi keuangan dan hasil
operasi perusahaan pada masa sekarang dan masa lalu, dengan tujuan utama untuk
menentukan estimasi dan prediksi yang
paling mungkin mengenai kondisi dan kinerja
perusahaan pada masa mendatang.
Tujuan Analisis Laporan Keuangan
Analisis laporan keuangan dilakukan untuk mencapai beberapa tujuan. Misalnya dapat
digunakan sebagai alat
screening
awal dalam memilih alternatif investasi atau merger, sebagai
alat
forecasting
mengenai kondisi dan kinerja keuangan di masa datang, sebagai proses
diagnosis terhadap masalah-masalah manajemen, operasi atau masalah lainnya, atau sebagai alat evaluasi terha
dap manajemen.Tujuan analisis laporan keuangan yang dilakukan dimaksudkan untuk menambah informasi yang ada dalam suatu laporan keuangan. Dengan melakukan analisis laporan keuangan, informasi mentah yang dibaca dari laporan keuangan akan menjadi lebih lua
s dan dan lebih dalam. Hubungan satu pos dengan pos lain akan dapat menjadi indikator tentang posisi dan prestasi keuangan perusahaan, (Harahap: 1997)
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriftif.
Data dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder
.
Data sekunder
yang digunakan dalam sumber data pada penelitian ini diperoleh dari
laporan keuangan
perusahaan
go public
yang diterbitkan oleh Bursa Efek Indonesia yang terdapat pada
Indonesian Capital Market Directory
(ICMD) pada tahun 2006
-
2010.
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data
yang digunakan
dalam penelitian ini adalah
dengan cara
dokumentasi dan observasi.
Metode Analisis Data
1
.
Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas mengukur kemampuan keuangan jangka pendek perusahaan
dengan melihat besarnya aktiva lancar relatif terhadap hutang lancarnya.
a
.
Rasio
lancar
Mengukur kemampuan perusahaan dengan memenuhi kewajibannya dalam
membayar hutang jangka pendeknya (jatuhnya tempo kurang dari satu tahun) dengan
menggunakan aktiva lancar.
5 Rasio lancar =
Aktiva Lancar
Hutang
Lancar
Rasio yang rendah menunjukkan liku
iditas jangka pendek yang rendah.
Rasio lancar yang tinggi menunjukan kelebihan aktva lancar (likuiditas tinggi dan
resiko rendah), tetapi punya pengaruh yang tidak baik terhadap profitabilitas
perusahaan, (Hanafi: 2004).
b
.
Rasio Cepat
Rasio ini mengeluarkan
persediaan dari komponen aktiva lancar.
Persediaan dianggap sebagai asset yang paling tidak likuid. Sama pada seperti rasio
lancar, angka yang tinggi mencerminkan likuiditas yang tinggi (resiko likuiditas yang
rendah) dan sebaliknya.
Rasio Cepat =
Aktiva
Lancar

Persediaan
Hutang
Lancar
(Hanafi: 2004).
c
.
Rasio Kas
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk
melunasi hutang yang harus segera dipenuhi dengan kas yang tersedia dan dalam
perusahaan dan efek yang didapat segera diuangkan.
Ra
sio Kas =
Kas
+
Efek
Hutang
Lancar
2
.
Rasio Aktivitas
Rasio ini menunjukkan bagaimana sumber daya telah dimanfaatkan secara optimal.
a
.
Perputaran Total Aktiva
Perputaran total aktiva, menunjukkan bagaimana efektivitas perusahaan
menggunakan keseluruhan aktiva
untuk menciptakan penjualan dan mendapat laba.
Perputaran Total Aktiva =
Penjualan
Total
Aktiva
x 100%
(Sartono: 2004).
b
.
Perputaran Pesediaan
Perusahaan yang perputaran persediaannya yang makin tinggi ini berarti makin
efisien.
Perputaran Persediaan
=
Harga
Pokok
Penjualan
Rata

Rata
Persediaan
x 100 %
(Sartono: 2004).
3
.
Rasio Solvabilitas
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka
panjangnya. Ada beberapa macam rasio solvabilitas yaitu :
a
.
Rasio Total Hutang terhadap
Total Assets
Ras
io yang tinggi berarti perusahaan menggunakan hutang yang tinggi.
Penggunaan hutang yang tinggi akan meningkatkan profitabilitas, di lain pihak juga
akan meningkatkan resiko.
Rasio Total Utang terhadap
Total Assets
=
Total
Hutang
Total
Aktiva
(Hanafi: 2004
).
b
.
Debt to Equity Ratio
Rasio ini menunjukkan hubungan (dalam perbandingan) antara total hutang,
baik jangka pendek maupun jangka panjang dengan modal sendiri.
Debt to Equity Ratio
=
Total
Hutang
Modal
sendiri
6
4
.
Rasio Profitabilitas
Rasio ini mengukur
kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan pada
tingkat penjualan asset dan modal saham tertentu. Rasio yang menggunakan antara lain :
a
.
Profit Margin
Profit margin
adalah menghitung sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan
laba bersih pada tingkat pe
njualan tertentu.
Profit Margin
=
Laba
Bersih
Penjualan
(Hanafi: 2004).
b
.
Return On Assets
(ROA)
Return on assets
mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih
berdasarkan tingkat asset tertentu.
Return On Assets
=
Laba
Bersih
Total
Aset
(Hanaf
i: 2004).
c
.
Return On Equity
(Rentabilitas Modal Sendiri)
Return On Equity
adalah mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba yang
tersedia bagi pemegang saham perusahaan. Rasio ini menunjukkan rentabilitas modal
sendiri atau yang sering disebut sebagai re
ntabilitas usaha.
Return On Equity
=
Laba
Bersih
Modal
Sendiri
(Sawir: 2001).
HASIL PENELITIAN
1
.
Rasio Likuiditas
Data Perhitungan
Current Ratio, Quick Ratio
, dan
Cash ratio
Tahun
Current Ratio
Quick Ratio
Cash Ratio
2006
2007
2008
2009
2010
1,27
1,11
1,00
1,00
0,85
0,80
0,76
0,59
0,65
0,49
0,53
0,21
0,26
0,27
0,09
Sumber: Data Sekunder Yang Diolah
Dari
hasil perhitungan diatas dapat diketahui bahwa rasio likuiditas untuk
Current
Ratio
(Rasio Lancar) pada tahun 2006
-
2010 masih sedikit mengalami penurunan. Hal ini
dilihat dari tahun 2006 dengan
current ratio
sebesar 1,27 atau 127%,pada tahun2007
dengan
current ratio
sebesar 1,11 atau 111 %, kemudian pada tahun 2008 dengan
current
ratio
sebesar 1,00 atau 100 %, sedangkan pada tahun 2009 dengan
current ratio
sebesar
1,00 atau 100 % dan pada tahun 2010 dengan
current ratio
sebesar 0,85 atau 85 %. Pada
tahun 2006 hingga tahun 2007 terjadi penurunan
current ratio
sebesar 0,16 atau 16 %,
kemu
dian pada tahun 2007 hingga tahun 2008 terjadi penurunan
current ratio
sebesar 0,11
atau 11 %, sedangkan pada tahun 2008 hingga tahun 2009 tidak terjadi penurunan
current
ratio
atau
current ratio
tetap yaitu sebesar 1,00 atau 100 %, dan yang terakhir pada
tahun
2009 hingga tahun 2010 nilai
current
ratio
kembali mengalami penurunan yaitu sebesar
0,15 atau 15 %. Apabila dibandingkan dengan tahun
-
tahun yang lainnya
angka Penurunan
terbesar
current ratio
terjadi pada tahun 2006 hingga tahun 2007 yaitu sebesar 0
,16 atau 16
%. Sedangkan nilai
current ratio
tertinggi terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 1,27 atau
127 %. Hal ini berarti bahwa setiap rupiah dari aktiva lancar mampu menjamin hutang
7
lancar sebesar 127 rupiah. Walaupun pada setiap tahunnya nilai
current
ratio
masih sedikit
mengalami penurunan, kinerja keuangan pada Perusahaan Unilever dapat dikatakan sudah
cukup baik apabila diukur dari tingkat rasio 100 % karena perusahaan dapat dikatakan baik
jika mempunyai nilai
current ratio
lebih besar dari 100 %. H
al ini dapat dilihat pada nilai
current ratio
tahun 2006
-
2009 yang mempunyai nilai rata
-
rata
current ratio
di atas 100 %,
dan kemudian pada tahun 2010 nilai
current ratio
belum dapat mencapai 100% yang
disebabkan berubahnya komposisi aktiva lancar dan huta
ng lancar yang tidak seimbang,
sehingga ini akan mempengaruhi perhitungan prosentase
current ratio
serta kurang
efisiennya perusahaan dalam menggunakan aktiva lancar untuk menjamin hutang. Hal
tersebut harus segera dibenahi untuk tahun
-
tahun mendatang agar
tidak kembali terjadi
penurunan karena apabila kembali terjadi penurunan, ini akan sangat berdampak pada
kinerja perusahaan untuk ke
depannya dan merugikan bagi
perusahaan.
Berdasarkan perhitungan
quick ratio
diatas terjadi penurunan selama 3 (Tiga) tahun
berturut
-
turut yaitu pada tahun 2006 sampai dengan tahun 2008, kemudian pada tahun
2009 hingga tahun 2010
quick ratio
kem bali mengalami penurunan. Satu
-
satunya
quick
ratio
yang mengalami kenaikan yaitu pada tahun 2008 hingga tahun 2009. Pada
perhitungan
quick ratio
menunjukkan pada tahun 2006 sebesar 0,80 atau 80 %. Artinya
bahwa setiap satu rupiah kewajiban lancar akan dijamin oleh aktiva lancar sebesar 0,80
rupiah. Pada tahun 2007
quick ratio
mengalami penurunan menjadi 0,76 atau 76 % ini
berarti bahwa
setiap kewajiban lancar satu rupiah akan dijamin oleh aktiva lancar sebesar
0,76 rupiah. Pada tahun 2008
quick ratio
kembali mengalami penurunan menjadi 0,59 atau
59 % hal ini menunjukkan bahwa setiap kewajiban lancar satu rupiah akan dijamin oleh
aktiva l
ancar sebesar 0,59 rupiah. Kemudian pada tahun 2009
quick ratio
mengalami
kenaikan menjadi 0,65 atau 65 % ini artinya bahwa setiap kewajiban lancar satu rupiah
akan dijamin oleh aktiva lancar sebesar 0,65 rupiah. Pada tahun 2010
quick ratio
kembali
mengala
mi penurunan menjadi 0,49 atau 49 % ini berarti setiap satu rupiah kewajiban
lancar akan dijamin oleh aktiva lancar sebesar 0,49 rupiah. Jadi, dapat disimpulkan bahwa
Perusahaan Unilever dalam memenuhi kewajiban lancarnya belum dapat dikatakan baik
dari pe
rhitungan
quick rationya
.
Dari hasil perhitungan
cash ratio
diatas menunjukkan pada tahun 2006 sebesar 0,53
atau 53 %, artinya setiap kewajiban lancar satu rupiah akan dijamin kas dan efek sebesar
0,53 rupiah. Pada tahun 2007
cash ratio
mengalami penurunan menjadi 0,21 atau 21 % ini
berarti bahwa setiap kewajiban lancar satu rupiah akan dijamin kas dan efek sebesar 0,21
rupiah. Kemudian kenaikan terjadi pada tahun 2008 dan 2009 yaitu sebesar 0,26 atau 26 %
dan 0,27 atau 27 % ini artinya
setiap satu rupiah kewajiban lancar akan dijamin kas dan
efek sebesar masing
-
masing 0,26 dan 0,27 rupiah. Pada tahun 2010
cash ratio
kembali
mengalami penurunan yaitu sebesar 0,09 atau 9 % hal ini menunjukkan bahwa setiap
kewajiban lancar satu rupiah akan
dijamin kas dan efek sebesar 0,09 rupiah. Dari hasil
analisis diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa adanya rasio
cash
yang tinggi berarti
menunjukkan adanya uang kas yang berlebihan dibandingkan dengan tingkat kebutuhan
atau adanya unsur asset lancar yang
rendah nilai likuiditasnya.Ini berarti bahwa jika tinggi
atau lebih dari 100 % rasio tersebut mempunyai ukuran yang baik dari sudut pandang
kreditur tetapi kendala kurang menguntungkan dari sudut pandang pemegang saham.
Jadi
berdasarkan hasil perhitungan r
asio likuiditasnya tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam
8
memenuhi kewajibannya Perusahaan Unilever mempunyai kriteria kas yang
menguntungkan dari sudut pandang siapa saja karena tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu
rendah.
2
.
Rasio Aktivitas
Data Perhitung
an Perputaran Persediaan Dan Perputaran Total Aktiva
Tahun
Perputaran Persediaan
Perputaran Total Aktiva
2006
2007
2008
2009
2010
7,47
7,29
6,19
6,87
6,03
2,45
2,35
2,39
2,44
2,26
Sumber: Data Sekunder Yang Diolah
Dari hasil perhitungan pada tabel 4.2
diatas untuk rasio aktivitas perputaran
persediaan (
Inventory Turnover
) selama tiga tahun berturut
-
turut mengalami penurunan
yaitu pada tahun 2006 sampai dengan tahun 2008. Pada tahun 2006 perputaran persediaaan
sebesar 7,47 dan pada tahun 2007 perputaran
persediaan sebesar 7,29 ini berarti terjadi
penurunan sebesar 0,18 atau 18 %. Sedangkan perputaran persediaan pada tahun 2008
mengalami penurunan sebesar 1,10 menjadi 6,19. Pada tahun 2009 perputaran persediaan
mengalami kenaikan sebesar 0,68 atau 68 % men
jadi 6,87. Kemudian pada tahun 2010
perputaran persediaan kembali terjadi penurunan sebesar 0,84 atau 84 % menjadi 6,03.
Apabila perputaran persediaan ini semakin kecil maka semakin buruk pula kondisi suatu
perusahaan, hal ini berarti kegiatan penjualan be
rjalan lamban. Ini artinya kinerja keuangan
Perusahaan Unilever dikategorikan kurang baik, hal ini ditunjukkan dengan masa
perputaran persediaan dari tahun ke tahun yang masih mengalami penurunan, sehingga
akan memperlambat persediaan tersebut menjadi uang
kembali.
Pada perhitungan rasio aktivitas untuk perputaran total aktiva (
Total Asset
Turnover
) selama lima tahun dari tahun 2006 hingga tahun 2010 mengalami penurunan
dan kenaikan. Pada tahun 2006 perputaran total aktiva adalah sebesar 2,45 dan pada tahun
2007 perputaran total aktiva sebesar 2,35 berarti terjadi penurunan sebesar 0,10 atau 10%.
Sedangkan pada tahun 2008 perputaran total aktiva mengalami kenaikan sebesar 0,04 atau
4 % menjadi 2,39. Pada tahun 2009 perputaran total aktiva kembali mengalami k
enaikan
sebesar 0,05 atau 5 % menjadi 2,44. Kemudian pada tahun 2010 perputaran total aktiva
kembali mengalami penurunan menjadi 2,26 atau turun sebesar 18 % dari tahun
sebelumnya. Apabila rasio perputaran total aktiva ini semakin rendah maka semakin buruk
pula kemampuan semua aktiva menciptakan penjualannya. Ini artinya kinerja keuangan
Perusahaan Unilever dapat dikatakan cukup baik, hal ini disebabkan karena dana yang
tertanam pada keseluruhan aktiva perputarannya mengalami kenaikan.
3
.
Rasio Solvabilitas
Da
ta Perhitungan Total Hutang terhadap Total Asset dan
Debt to Equity Ratio
Tahun
Rasio Total Hutang Terhadap Total Assets
Debt To Equity Ratio
2006
2007
2008
2009
2010
0,49
0,49
0,52
0,50
0,53
0,95
0,98
1,10
1,02
1,15
Sumber: Data Sekunder Yang Diolah
9
Dari hasil perhitungan pada tabel 4.3 di
atas untuk rasio solvabilitas total hutang
terhadap total asset untuk tahun 2006 sebesar 0,49 atau 49 %, ini berarti bahwa setiap
rupiah aktiva digunakan untuk menjamin hutang sebesar 0,49 rupiah. Pada tahun 2007
ti
dak mengalami kenaikan maupun penurunan yaitu masih sebesar 0,49 atau 49 % yang
berarti bahwa setiap
rupiah aktiva akan digunakan untuk menjamin hutang sebesar 0,49
rupiah. Pada tahun 2008 mengalami peningkatan sebesar 0,03 dari yang semula 0,49 atau
49 %
menjadi 0,52 atau 52 % ini menunjukkan bahwa
setiap
rupiah aktiva akan digunakan
untuk menjamin hutang sebesar 0,52 rupiah. Kemudian pada tahun 2009 mengalami
penurunan menjadi 0,50 atau 50 % hal ini berarti setiap rupiah aktiva akan digunakan
untuk menjam
in hutang sebesar 0,50 rupiah. Pada tahun 2010 total hutang terhadap total
asset berubah menjadi 0,53 atau 53 % mengalami peningkatan sebesar 0,03 atau 3 % dari
tahun 2009, hal ini berarti bahwa setiap rupiah aktiva akan digunakan untuk menjamin
hutang seb
esar 0,53 rupiah. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa total hutang terhadap total
asset dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 sudah cukup baik karena hanya sekali
mengalami penurunan yaitu pada tahun 2008 hingga tahun 2009 saja.
Dari hasil perhitungan diatas menunjukkan bahwa
debt to equityratio
mengalami
kenaikan dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2008. Hasil perhitungan
debt to equity ratio
pada tahun 2006 adalah sebesar 0,95 atau95 %, hal ini menunjukkan bahwa setiap rupiah
da
ri total hutang perusahaan mampu dijamin dengan 0,95 rupiah dari modal sendiri atau
dapat dikatakan bahwa kemampuan perusahaan
dalam menutup seluruh hutangnya melalui
modal sendiri adalah 95 %. Pada tahun 2007
debt to
equity ratio
adalah sebesar 0,98 atau
98 % ini artinya bahwa setiap rupiah dari total hutang perusahaan mampu dijamin dengan
0,98 rupiah dari modal sendiri atau dapat dikatakan bahwa kemampuan perusahaan dalam
menutup seluruh hutangnya melalui modal sendiri adalah 98 %. Pada tahun 2008
debt to
equity ratio
kembali mengalami kenaikan menjadi 1,10 atau 110 %, hal ini berarti bahwa
setiap rupiah dari total hutang perusahaan mampu dijamin dengan 1,10 rupiah dari modal
sendiri atau kemampuan perusahaan dalam menutup seluruh hutangnya melalui modal
s
endiri adalah 110 %. Kemudian pada tahun 2009 terjadi penurunan
debt to equity ratio
sebesar 0,08 atau 8 % dari 1,10 atau 110 % menjadi 1,02 atau 102 % ini berarti bahwa
setiap satu rupiah dari total hutang perusahaan mampu dijamin dengan 1,02 rupiah dari
modal sendiri atau kemampuan perusahaan dalam menutup seluruh hutangnya melalui
modal sendiri adalah 102 %. Pada tahun 2010
debt to equity ratio
kembali terjadi kenaikan
menjadi 1,15 atau 115 % ini menunjukkan bahwa setiap rupiah dari total hutang
perusaha
an mampu dijamin dengan 1,15 rupiah dari modal sendiri atau dapat dikatakan
bahwa kemampuan perusahaan dalam menutup seluruh hutangnya melalui modal sendiri
adalah 115 %. Jadi dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan perusahaan unilever yang
diukur dari
de
bt to equity ratio
sudah baik karena perusahaan mampu menutup hutangnya
melalui modal sendiri dengan cukup baik walaupun terjadi penurunan
debt to equity ratio
yaitu pada tahun 2008 hingga tahun 2009 yaitu sebesar 0,08 atau 8 %.
4
.
Rasio Profitabilitas
Data Perhitungan
Profit Margin
, ROA, dan ROE
Tahun
Profit Margin
ROA
ROE
2006
2007
2008
2009
2010
0,15
0,16
0,15
0,17
0,17
0,37
0,37
0,37
0,41
0,39
0,73
0,73
0,78
0,82
0,84
Sumber: Data Sekunder Yang Diolah
10
Berdasarkan hasil perhitungan diatas dapat diketahui bahwa
profitmargin
pada
tahun 2006 sebesar 0,15 atau 15 %. Pada tahun 2007 terjadi peningkatan menjadi 0,16 atau
16 %. Pada tahun 2008 terjadi penurunan menjadi 0,15 atau 15 % kemudian pada tahun
2009 ke
mbali terjadi peningkatan sebesar 0,02 atau 2 % menjadi 0,17 atau 17 % dan yang
terkahir pada tahun 2010
profit margin
masih sama pada tahun 2009 yaitu sebesar 0,17
atau 17 %. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwabatas prosentase keuntungan bersih
yang d
idapatkan oleh perusahaan unilever setiap tahun relatif meningkat, hal ini
menunjukkan pengukuran kinerja keuangan (Profitabilitas) sudah cukup baik.
Dari hasil perhitungan ROA diatas,
Return On Assets
pada tahun 2006 sampai
dengan tahun 2008 sebesar 0,37
atau 37 %. Pada tahun 2009 ROA sebesar 0,41 atau 41 %
dan pada tahun 2010 ROA sebesar 0,39 atau 39 %. Dengan demikian dapat ditarik
kesimpulan bahwa keuntungan yang diperoleh perusahaan berdasarkan investasi yang
ditanamkan dalam perusahaaan tersebut berva
riasi pada setiap tahunnya dengan kondisi
rentabilitas ekonomis yang cukup baik.
Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel 4.4 dapat dilihat bahwa pada tahun 2006
dan 2007
Return On Equity
(ROE) adalah sebesar 0,73 atau 73 %. Hal ini menunjukkan
bahwa setiap
rupiah dari modal sendiri perusahaan mampu menghasilkan laba bersih
sebesar 0,73 rupiah. Pada tahun 2008 ROE mengalami peningkatan sebesar 0,05 atau
meningkat 5 % menjadi 0,78 atau 78 % ini artinya bahwa setiap rupiah dari modal sendiri
perusahaan mampu m
enghasilkan laba bersih sebesar 0,78 rupiah. Kemudian pada tahun
2009 ROE kembali mengalami peningkatan menjadi 0,82 atau 82 % ini berarti bahwa
setiap rupiah dari modal sendiri perusahaan mampu menghasilkan laba bersih sebesar 0,82
rupiah. Pada tahun 2010
ROE meningkat sebesar 2 % menjadi 0,84 atau 84 % hal tersebut
menunjukkan setiap rupiah dari modal sendiri perusahaan mampu menghasilkan laba
bersih sebesar 0,84 rupiah. Dari hasil analisis diatas dapat disimpulkan bahwa terjadi
peningkatan
Return On Equi
ty
(ROE) dari tahun ke tahun yaitu pada tahun 2008
meningkat sebesar 5 %, tahun 2009 meningkat sebesar 4 % dan pada tahun 2010
meningkat sebesar 2 % sehingga menunjukkan adanya efisiensi kinerja dari Perusahaan
Unilever dalam mengoptimalkan modal sendiri u
ntuk menghasilkan laba bersih.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
1
.
Rasio Likuiditas
Kinerja keuangan pada Perusahaan
Unilever
ditinjau dari rasio likuiditas yang
diukur dengan
current ratio
pada tahun 2006
-
2010 dapat dikatakan sudah cukup baik
, hal
ini dikarenakan
ni
lai
rata
-
rata
current rat
io
selama k
urun waktu empat
tahun berturut
-
turut
sudah mencapai tingkat rasio 100 % meskipun dari tahun ke tahunnya masih
mengalami sedikit penurunan
.
P
enurunan terbesar terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar
16 %.
Sedangkan nilai
current ratio
tertinggi terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 127
%.
Hal ini men
andakan bahwa kinerja keuangan Perusahaan U
nilever yang diukur dari
current ratio
dapat dikatakan sudah cukup baik apabila diukur dari tingkat rasio 100 %
meskipun
masih
meng
al
ami penurunan yang disebabkan berubahnya komposisi aktiva
lancar dan hutang lancar yang tidak seimbang, sehingga ini mempengaruhi perhitungan
prosentase
current ratio
.
Kinerja keuangan pada Perusahaan U
nilever ditinjau dari rasio l
ikuiditas yang
di
ukur dengan
quick ratio
pada tahun 2006
-
2010 dikatakan kurang baik
, hal ini ditandai
berdasarkan perhitungan
quick ratio
selama tiga periode berturut
-
turut dari tahun 2006
hingga 2008 mengalami penurunan yang signifikan yaitu masing
-
masing mengalami
penuru
nan pada tahun 2006
-
2007 menurun sebesar 4 % dan pada tahun 2007
-
2008
11
menurun sebesar 17 %. Kenaikan terjadi pada tahun 2008
-
2009 yaitu sebesar 6 %
kemudian pada tahun 2009
-
2010
quick ratio
kembali terjadi penurunan yaitu sebesar 16
%. Apabila dibandingkan
dengan tahun
-
tahun lainnya penurunan terbesar terjadi pada
tahun 2007 hingga tahun 2008 yaitu terjadi penurunan sebesar 17 %
. Hal ini
menu
njukkan bahwa kinerja keuangan Perusahaan U
nilever yang diukur dari
quick ratio
masih dikategorikan kurang baik karen
a masih banyak terdapat penurunan pada setiap
periodenya sehingga Perusahaan U
nilever masih tergolong kurang baik dalam memenuhi
kewajiban lancarnya.
Kinerja keuangan pada Perusahaan U
nilever ditinjau dari rasio likuiditas yang
diukur dengan
cash ratio
pad
a tahun 2006
-
2010
menunjukkan bahwa dalam memenuhi
kewajibannya perusahaan unilever memiliki kriteria
cash
yang menguntungkan karena
tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Hal tersebut ditunjukkan pada tahun 2006
terdapat
cash ratio
sebesar 0,53 atau 53 % kemudian pada tahun 2007
cash ratio
turun
menjadi 0,21 atau 21 %
, ini berarti terjadi penurunan
cash ratio
sebesar 0,32 atau 32%.
Kemudian pada tahun 2008 dan tahun 2009
cash ratio
mengalami kenaikan sebesar 5 %
dan 1 % menjadi 0,26
atau 26 % dan 0,27 atau 27 %
. Sedangkan pada tahun 2010
cash
ratio
kembali terjadi penurunan sebesar 0,18 atau 18 % menjadi 0,09
atau 9 %
. Naik
turunnya
cash ratio
tersebut akan mempengaruhi kinerja dana atau kas perusahaan untuk
kedepannya, ini berarti b
ahwa jika tinggi atau lebih dari 100 % rasio tersebut memiliki
ukuran yang baik dari sudut pandang kreditur tetapi kendala kurang menguntungkan dari
sudut pandang pemegang saham.
2
.
Rasio Aktivitas
Kinerja keuangan Perusahaan U
nilever ditinjau dari rasio
aktivitas yang diukur
dengan perputaran persediaan (
Inventory Turnover
)
pada tahun 2006
-
2010 masih di
kategorikan kurang baik, hal tersebut dapat dilihat pad
a perhitungan
Inventory T
urnover
selama tiga tahun berturut
-
turut pada tahun 2006
-
2008 yang mengalami penurunan
yang
signifikan.Apabila
Inventory Turnover Ratio
ini semakin kecil maka semakin buruk pula
kondisi suatu perusahaan, hal ini berarti kegiatan penjualan terhambat
, karena dengan
masa perputaran persediaan dari tahun ke tahun yang masih mengalami penurunan,
sehingga akan memperlambat persediaan tersebut menjadi uang kembali dan ini akan
sangat merugikan bagi perusahaan.
Kinerja keuangan Perusahaan U
nilever ditinjau dari rasio akti
vitas yang diukur
dengan perputaran total aktiva (
Total Assets Turnover
) pada tahun 2006
-
2010
dapat di
kategorikan cukup baik, hal tersebut dapat dilihat dari hasil perhitungan
Total Asset
Turnover
yang antara kenaikan dan penurunan seimbang.
Apabila rasio
perputaran
total
aktiva ini semakin rendah maka semakin buruk pula kemampuan semua aktiva
menciptakan penjualannya
. Ini artinya kinerja keuangan Perusahaan U
nilever dapat
dikategorikan cukup baik
, hal ini disebabkan karena dana yang tertanam pada
keseluruh
an aktiva perputarannya mengalami kenaikan.
3
.
Rasio Solvabilitas
Kinerja keuangan Perusahaan U
nilever ditinjau dari rasio solvabilitas yang diukur
dari Rasio Total terhadap Total Asset pada tahun 2006
-
2010 dapat di kategorikan cukup
baik karena dari hasil
perhitungannya hanya sekali mengalami penurunan
yaitu pada
tahun 2009
sebesar 2 %.
Ini artinya bahwa rasio Total Hutang terhadap Total Assets
pada
setiap tahunnya cenderung
mengalami kenaikan yang berarti perusahaan telah mampu
menjamin hutang dengan aktiva
lancar yang dimiliki oleh perusahaan.
Kin
erja keuangan Perusahaan U
nilever ditinjau dari rasio solvabilitas yang diukur
dari
Debt to Equity Ratio
pada tahun 2006
-
2010 dapat dikatakan sudah baik karena
berdasarkan hasil perhitungannya
mengalami kenaikan ya
ng cukup signifikan
dan
dari
perhitungannya
hanya sekali mengalami penurunan yaitu p
ada tahun 2008
-
2009
yang
12
mengalami penurunan sebesar 8 %.Jadi dapat disimpulkan bah
wa kinerja keuangan
Perusahaan U
nilever yang diukur dari
Debt to Equity Ratio
dapat dikat
akan sudah baik
karena perusahaan mampu menutup hutangnya melalui modalnya sendiri dengan cukup
baik.
4
.
Rasio
Profitabilitas
Ki
nerja keuangan pada Perusahaan U
nilever ditinjau dari rasio profitabilitas yang
diukur dengan
profit margin
pada tahun 2006
-
2010 da
pat dikatakan cukup baik walaupun
sekali mengalami penurunan yaitu pada tahun 2008 yang hanya terjadi penurunan sebesar
1 %.
Kenaikan tertinggi
Profit Margin
terjadi pada tahun 2009 yang mengalami kenaikan
sebesar 2 %.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
batas prosentase keuntung
an
bersih yang didapatkan oleh Perusahaan U
nilever setiap tahunnya relatif meningkat, hal
ini menunjukkan pengukuran kinerja keuangan (Profitabilitas) sudah cukup baik dengan
mengalami peningkatan.
Kinerja keuangan pada perusahaa
n unilever ditinjau dari rasio profitabilitas yang
diukur dengan
Return On Assets
(ROA) pada tahun 2006
-
2010 dapat dikatakan cukup
baik. Hal ini ditu
njukkan berdasarkan perhitungan ROA yang cenderung mengalami
peningkatan pada setiap tahunnya.Kenaikan ROA
tertinggi terjadi pada tahun 2009 yang
mengalami peningkatan sebesar 4 %. Sedangkan dari lima periode ROA hanya sekali
mengalami penurunan yaitu pada tahun 2010 sebesar 2 %.
Dengan demikian dapat ditarik
kesimpulan bahwa keuntungan yang diperoleh perusahaa
n berdasarkan investasi yang
ditanamkan dalam perusahaaan tersebut bervariasi pada setiap tahunnya dengan kondisi
rentabilitas ekonomis yang cukup baik.
Kinerja keuangan pada Perusahaan U
nilever
ditinjau dari rasio profitabilitas yang
diukur dengan
Return
On Equity
(ROE) pada tah
un 2006
-
2010 dapat dikatakan
sudah
baik. Hal ini dibuktikan berdasarkan perhitungan ROE selama lima tahun yang tidak
pernah mengalami p
enurunan dan relatif meningkat. Kenaikan ROE tertinggi terjadi pada
tahun 2008 yang mengalami pen
ingkatan hingga sebesar 5 %.
Hal ini menunjukkan
adanya efisiensi kinerja Perusahaan Unilever dalam mengoptimalkan modal sendiri untuk
menghasilkan laba bersih.
Saran
B
erdasarkan kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini, maka penulis
dapat
memberikan saran
-
saran sebagai berikut:
1
.
Pada posisi likuiditas Perusahaan Unilever perlu ditingkatkan lagi, dilihat dari nilai
perhitungan masing
-
masing rasio masih terjadi penurunan yang signifikan dan belum
mencapai tingkat yang standar, terutama
pada
quick rat
io
, k
arena pada perhitungan
quick
rat
io
dalam tiga tahun berturut
-
turut terjadi penurunan, hal ini dimaksudkan agar kinerja
keuangan pada Perusahaan Unilever menjadi lebih baik.
2
.
Pada posisi aktivitas
, terutama pada perputaran persediaan perl
u peningkatan lagi, karena
berdasarkan hasil perhitungannya banyak yang masih mengalami penurunan. Hal ini secara
tidak langsung akan sangat mempengaruhi kegiatan (aktivitas) penjualan perusahaan yang
berdampak pada terhambatnya kegiatan penjualan perusah
aan sehingga akan
memperlambat persediaan tersebut menjadi uang kembali dan ini akan sangat merugikan
bagi perusahaan.
3
.
Pada posisi
solvabilitas Perusahaan Unilever perlu ditingkatkan lagi agar tidak terjadi
penurunan karena hasil yang diperoleh masih sedik
it mengalami penurunan.Perusahaan
seharusnya dapat memaksimalkan modal yang dimiliki oleh perusahaan sehingga
perusahaan perlu menambah lagi modal usahanya agar perusahaan dapat menutup hutang
dengan modalnya sendiri.
13
4
.
Pada posisi profitabilitas Perusahaan
Unilever
sudah baik dan ini perlu dipertahankan
bahkan untuk tahun
-
tahun yang akan datang baik
profit margin
,
ROA dan ROE perlu
ditingkatkan lagi, agar keuntungan yang diperoleh perusahaan perusahaan lebih
memuaskan dan bisa lebih tinggi dari tahun
-
tahun sebelumnya.
5
.
Bagi peneliti selanjutnya diharapkan agar dapat membuat analisis kinerja keuangan
perusahaan denga
n sampel perusahaan yang lebih banyak dalam jangka waktu yang lebih
panjang sehingga dapat diketahui
trend
perkembangan kinerja perusahaan sebelumnya
maupun yang akan datang.
6
.
Penelitian selanjutnya juga diharapkan melakukan pengukuran atau penilaiaan kiner
ja
keuangan perusahaan dalam aspek operasional dan aspek administrasi tidak hanya aspek
keuangannya saja.
DAFTAR PUSTAKA
Hanafi, 2004.
Manajemen Keuangan.
Yogyakarta: BPFE UGM.
Hanafi, Mamduh dan Halim, Abdul, 2009.
Analisis Laporan Keuangan
. Yogyakarta: STIE
YKPN.
Harnanto, 2004.
Analisa Laporan Keuangan
.
Yogyakarta: UPD AMP YKPN.
Harahap, Sofyan Syafri, 2006.
Analisis Kritis atas Laporan Keuangan
. Jakarta: PT. Raya
Grafindo Persada.
Ikatan Akuntansi Indonesia, 2007.
Standar Akuntansi Keuangan
. Jakarta: Salemba Empat.
Jumingan, 2006.
Analisis Laporan Keuang
an
. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Mulyadi, 2001.
Akuntansi Manajemen
. Jakarta: Salemba Empat.
Munawir, 2002.
Akuntansi Keuangan dan Manajemen
. Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE
UGM.
Prastowo, Dwi dan Juliaty, Rifka, 2008.
Analisa Laporan Keuangan
. Edisi 2.
Yogyakarta:
UPP STIE YKPN.
Rarasati dewi dan Tirtoprojo, Susanto, 2009.
Analisis Rasio Keuangan dalam Memprediksi
Kinerja Keuangan Perusahaan Food and Beverages yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia
. Jurnal Fokus Manajerial.
Sartono, Agus, 2006.
Manajemen
Keuangan
. Yogykarta: BPFE UGM.
Sawir, Agnes, 2001.
Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan
.
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Sudjana, 2002.
Metoda Statistika
. Bandung: Tarsita
Supriyono dan Mulyadi, 2001.
Proses Pengendalian Manaj
emen
. Yogyakarta: BPFE UGM.
Yusuf, Haryono, 2000.
Dasar
-
Dasar Akuntansi
. Yogyakarta: STIE YKPN.
http://eprints.ums.ac.id/19949/9/NASKAH_PUBLIKASI_ILMIAH.pdf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar